wibiya widget

One Klik for Jutaan Rupiah

Garuda

Radio Urang Awak

Translate Article

English French German Spain

Italian Dutch Russian Brazil

Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

SMS Gratis


Make Widget

punkmuslim.co.cc

Anak Punk Antimedia 'Mainstream'?

Posted by permana anak lugom On 6:50 AM 0 comments

Semangat kebebasan dan perlawanan pada budaya mainstream atau arus utama menjadikan budaya punk memiliki pemikirannya sendiri dalam menjalani hidup. Tidak jarang, anak punk terkesan eksklusif bahkan dianggap antimedia mainstream. Benarkah demikian?

"Masyarakat selalu melihat punk dari segi negatifnya saja. Dan kenapa punk tidak mau bekerja sama dengan media-media mainstream? Karena media mainstream hanya menunjukkan hal-hal negatif saja ke masyarakat, sedangkan hal yang positifnya tidak pernah dibicarain," ujar Geboy (29), salah satu pecinta punk, Selasa (28/9/2010) di Jakarta.

Dia menilai, masyarakat umum menilai suatu hal terlalu sempit karena hanya melihatnya dari tampilan luar. "Coba untuk lebih terbuka dengan kebudayaan yang mulai berkembang karena setiap kebudayaan yang ada pasti ada hal positifnya," ungkap pria yang sudah menggandrungi punk semenjak SMP ini.

Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris, pada tahun 1980-an. Pada awalnya, kelompok punk merupakan anak-anak muda kelas pekerja dengan semangat we can do it ourselves. Ini merupakan pergerakan perlawanan terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang tidak menentu.

Sikap itu pun kemudian diwujudkan melalui ciri khas musik punk yang kadang kasar dan dengan beat cepat serta menghentak. Lirik-lirik yang mereka nyanyikan juga sering kali merupakan bentuk sindiran kepada pemerintahan atau kondisi yang ada.

Dengan semangat do it ourselves tersebut, banyak komunitas punk menghasilkan band punk, tetapi tidak masuk ke industri. Mereka lebih memilih mengambil jalur distribusi independen (indie) yang tidak terikat pihak mana pun.

"Karena semangat do it yourself (DIY) itu, kami memang ngerasa bisa lebih puas kalau misalnya bisa sukses tanpa ada bantuan siapa pun, termasuk media mainstream. Makanya, kalau kami bikin acara, kami enggak mau disorot, cukup yang suka saja yang datang," ujar Ade (18), salah satu anggota komunitas Melody Street Punk di kawasan Blok M, Jakarta.

Category : edit post

Anak Punk: Kami Enggak Mau "Nyopet"!

Posted by permana anak lugom On 6:49 AM 0 comments

Punk merupakan pergerakan anak-anak muda kelas pekerja di London, Inggris, tahun 1980-an. Mereka menuntut ketidakadilan yang terjadi pada bidang sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi saat itu.

Dengan mengusung semangat we can do it ourselves, para anak punk ini memilih hidup mandiri, bahkan tak jarang yang akhirnya memutuskan keluar rumah dan hidup di jalan.

Lalu, bagaimana cara mereka bertahan hidup? Survival ala anak punk, komitmen hidup mandiri tanpa bantuan siapa pun, termasuk orangtua, membuat anak-anak punk ini harus memutar otak mencari pendapatan bagi dirinya sendiri. Meski sering kali hidup di jalanan, mereka pantang melakukan tindak kriminal, seperti mencuri atau malak.

"Ha-ha-ha-ha-ha... banyak hal yang bisa dilakukan, Mbak. Yang penting kami enggak nyolong duit negara," canda Geboy (29), pencinta punk yang juga anggota band reggae Djenks' ini.

Menurut pria yang berpendapat punk bukan sekadar musik ini, setiap anak punk punya cara masing-masing untuk bertahan.

"Sebagian memang ada yang hidup di jalan, tapi sebagian punk ada yang punya usaha lain, seperti workshop sablon, distro, dan band," ujarnya, Selasa (28/9/2010) di Jakarta.

Pernyataan itu juga senada dengan apa yang diutarakan Dona (25). "Enggak. Kami enggak mau nyopet atau kriminal lain karena itu sama aja bikin nama punk makin jelek lagi. Kami cari duit sendiri," ujar perempuan yang hidup di rumah kontrakan bersama tiga temannya sesama anggota komunitas punk Melody Street Punk ini.

Dona mengatakan, cara anak-anak punk di komunitasnya untuk mencari uang adalah dengan menjadi tukang parkir, manggung, ataupun membantu proyek film titipan orang.

"Biasanya duitnya jarang buat sendiri, paling buat rame-rame, biar nanti kalau kumpul, buat uang rokok atau minum, atau ntar kalau ada yang sakit," ungkapnya.

Slogan do it yourself itu, yang kemudian mendarah daging di tiap anak punk, berpengaruh pada cara menyambung hidupnya yang tidak mau terikat, seperti masuk menjadi karyawan.

"Iya, makanya banyak yang bikin usaha sendiri, paling sablon kaos, distro gitu, atau jasa tato," ujar Dona kepada Kompas.com.

Komunitas sebagai rumah

Dona mengatakan, awal masuknya dia ke dalam komunitas punk karena dirinya tengah kabur dari rumah saat kedua orangtuanya berlaku keras bahkan hingga pemukulan.

"Ya, awalnya saya memang kabur dan ketemu temen-temen di sini, dan banyak yang broken home juga, jadi saya ngerasa cocok," ujarnya.

Dona masuk pada tahun 2005. Sebagai satu-satunya anggota aktif di komunitas yang sudah ada dari tahun 1996 ini, Dona merasa menemukan keluarga, termasuk orangtua yang sudah meninggal dunia.

"Di sini justru karena cewek satu-satunya, saya berasa dilindungin. Di sini udah kayak keluarga lah, ikatannya kuat," ungkap Dona.

Geboy yang berasal dari komunitas punk Miracles juga mengaku, kekeluargaan di dalam komunitas sangat erat dan lebih nyaman bertukar informasi tentang dunia punk.

Terkait pola perekrutan untuk masuk ke dalam komunitas, baik Dona maupun Geboy, meyakinkan bahwa tidak ada aturan atau prasyarat apa pun untuk masuk ke dalam komunitasnya, ospek pun juga tidak ada.

"Dulu sempat ada ospek, tapi anak-anak justru protes pada enggak setuju cara itu, jadi sekarang enggak ada. Kalau mau masuk, ya tinggal datang, kami sih terbuka aja," ujarnya.

Persyaratan, lanjut Dona, justru akan bertabrakan dengan semangat kebebasan yang ada di dalam punk. "Mereka ke sini cari kebebasan, tapi pas masuk ke dalam malah diatur-atur, kan aneh," ucap Dona.

Memang, selama didirikan, kata Dona, anggota di komunitas Melody Street Punk memang silih berganti, keluar dan masuk.

"Jenuh itu pasti ada, jadi banyak di antara mereka yang akhirnya enggak sanggup dan milih kerja kantoran," ucap Dona.

Sementara Geboy, yang sudah menerjuni dunia punk dari bangku SMP ini, mengatakan, orang keluar masuk komunitas punk itu hal yang wajar.

"Ada pula yang menganggap ini (punk) hanya sebuah kenakalan remaja aja. Rasa jenuh pasti ada, tapi karena gue sudah jatuh cinta denga pemikiran ini gue enggak bisa lari walaupun jenuh sekalipun. Punk buat gue ada di hati," ujar Geboy.

Category : edit post

Aslinya, Punk Itu Tidur di Jalanan

Posted by permana anak lugom On 6:47 AM 0 comments

Menyebut kata punk, banyak orang dengan cepat bisa mengasosiasikan dengan sekelompok pemuda dengan gaya amburadul, musik keras dengan ritme menghentak, dan sering kali dianggap anarki di jalanan Ibu Kota. Apakah hal ini benar adanya?

Punk dan ideologi kebebasan punk sebenarnya bermula sebagai subbudaya yang lahir di London, Inggris, pada tahun 1980. Pada awalnya, kelompok punk merupakan anak-anak muda kelas pekerja dengan semangat we can do it ourselves yang merasa prihatin dengan kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang tidak menentu ketika itu.

Sikap tersebut kemudian diwujudkan dengan ciri khas berdandan dan musik punk yang kadang kasar dan dengan beat cepat serta mengentak. Dandanan mereka mudah dikenali, yakni dengan rambut mohawk, tindik (piercing), tato, gelang spike, dan rantai yang menghiasi sekujur tubuhnya.

"Tapi, jika dilihat dari akarnya, punk memang bukan aliran musik atau sekadar style berpakaian, melainkan sebagai konsep pemikiran atau ideologi dalam menjalani kehidupan," kata Geboy (29), anggota komunitas punk Miracles yang berbasis di Cipulir, Jakarta, Selasa (28/9/2010).

Dia mengatakan, punk itu bentuk perlawanan dari budaya yang ada. Semangat kebebasan juga ada di sini. Namun, kebebasan dalam arti pemikiran, kami bebas mengatur diri kami sendiri tanpa ada campur tangan dari orang lain atau pihak lain.

Menurut Geboy, soal pakaian dan aliran musik itu memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari punk karena merupakan identitas punk itu sendiri.

"Bedanya dengan rasta atau grindcore itu hanya tampilan. Intinya, kami sama-sama menganut paham kebebasan yang sama," ujar lulusan S-1 Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Moestopo (Beragama) tahun 2006 ini.

Punk, menurut Dona (25), anggota komunitas Melody Street Punk, memang bebas, tetapi bebas yang menghormati. "Batasnya kami sama-sama tahulah. Kami memang bebas, tapi tetap hormatin orang lain. Ada toleransinya juga, enggak yang bebas seenaknya aja. Ini yang orang-orang salah tangkap," ujarnya.

Dona mengaku tidak suka dengan kehadiran anak-anak punk yang suka menggunakan kekerasan, seperti memalak atau mencopet.

"Adanya mereka itu yang enggak tahu punk, tetapi bergaya punk tahunya copet yang malah bikin rusak nama punk sendiri," ujarnya kepada Kompas.com.

Menurut Dona, sikap oknum-oknum tersebut menuntut kebebasan dengan merugikan orang lain, padahal ada aturan tidak tertulis bahwa tidak bisa sembarangan mengejek ataupun melakukan tindakan kriminal lain. Keberadaan oknum ini, menurut Dona, hanya ikut-ikutan saja dalam hal berpakaian, tetapi bukan dari pemikiran.

"Punk ikut-ikutan itu biasanya yang paling jelas banget mereka enggak mau tidur di jalan, masih ngikut orangtua. Padahal, aslinya punk itu tidur di jalan. Di sini (jalanan) kami belajar hidup sendiri," ungkap perempuan asal Manado ini.

Baik Geboy dan Ade sama-sama memaknai punk sebagai cara pandang dalam menjalani hidup yang penuh dengan kebebasan, kritis terhadap kondisi dengan penyampaian yang lebih berseni, dan suatu cara bertahan hidup mandiri tanpa bantuan mana pun. Punk bukan berarti style, dia adalah pemikiran. Tidak dilihat dari luar, tapi dari dalam diri seseorang.

"Kami melihat seseorang yang hanya menggunakan baju koko dan sarung, tapi menunjukkan perlawanan yang konkret serta pemahaman tentang punk lebih luas bisa dibilang juga seorang punk. Jadi, menurut gue, seimbang dari tampilan dan pemikiran," ujar Geboy.

Category : edit post
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Ingat Waktu (WI)

Mutiara

If you want something you’ve never had, you must be willing to do something you’ve never done.

Jualan Jersey Bola Online

Saatnya Sholat

Followers

free counters