

Orang Minang atau Orang Padang(panggilan umum bagi Suku Minang diperantauan)banyak yang bisa sukses karena sejak dari kecil mereka mendapatkan serta mengamalkan pelajaran / nasehat dari hal-hal berikut;
Adat Basandi Syarak, syarak basandi kitabullah
Kalimat adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah adalah dasar hukum adat orang suku Minang. Jika sumber hukum bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka sumber hukum adat suku Minang asalnya dari kalimat dimaksud. Kalimat ini menjadi sumber referensi hukum bagi hukum adat dan cara kehidupan bermasyarakat suku Minang. Kalimat ini artinya Adat berdasarkan agama, agama berdasarkan kitab Allah SWT. Arti tersirat dari kalimat ini jika diamalkan akan membawa kita kepada kesuksesan dunia akhirat. Orang Minang yang sukses dalam perdagangan karena dalam kehidupan dan perdagangan mereka mengikuti aturan adat dan agama. Aturan agama yang mengatur dalam perdagangan harus jujur dan menjaga mutu membuat orang Minang sukses mendapatkan banyak pelanggan dan menjaga langganannya.
Alam Takambang Jadi Guru
Alam takambang jadi guru ini artinya alam yang terbentang jadi guru atau pelajaran. Pepatah ini sering dinasehatkan oleh orang tua suku Minang kepada anaknya. Kalimat ini mengandung makna semua yang ada di alam ini bisa menjadi pelajaran. Kalimat alam takambang jadi guru ini berdasarkan pengembangan ayat dari kitab suci yang menyuruh membaca. Hal ini membuat orang Minang menjadi kreatif membaca peluang yang tampak dan tersirat. Orang Minang yang mempelajari gejala lingkungan menjadi kreatif menjemput peluang. Karena nasehat dari kalimat ini orang Minang banyak yang berhasil menjadi pengusaha sukses, walaupun dasar pendidikan akademik mereka tidak begitu tinggi. Mengapa bisa? karena orang Minang menganggap pendidikan itu penting. Tapi pendidikan tidak harus dari sekolah. Sebab alam dan pengalaman hidup menjadi guru terbaik bagi kesuksesan orang Minang. Hal ini juga yang membuat suku Minang bisa mengambil pelajaran dari sebuah kegagalan.
Dima Bumi Dipijak Disinan Langik Dijunjuang
Selanjutnya nasehat"Dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang. Dalam kalimat ini mengandung arti, dimana orang Minang tinggal mereka menyesuaikan diri dengan masyarakat dan peraturan setempat. Dengan menjalankan nasehat ini orang Minang yang pergi merantau selalu dapat cepat beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini membuat orang Minang cepat mendapatkan kesuksesan diperantauan. Dengan menyesuaikan diri dan menghormati lingkungan barunya membuat masalah dengan pribumi setempat dapat diminimalisir. Nasehat ini juga direfleksikan suku Minang dalam bisnis mereka. Mereka menyesuaikan produk dan dagangannya dengan keadaan serta permintaan client mereka.
Baraja ka Nan Manang, Mancontoh ka Nan Sudah.
Baraja ka nan manang, mancontoh ka nan sudah jika diterapkan dalam bisnis ini artinya mempelajari bagaimana seseorang bisa sukses dan menerapkan kiat-kiat sukses orang yang telah dahulu sukses. Jika orang Minang gagal dalam suatu hal, maka orang tua mereka akan memberikan nasihat berupa pepatah-petitih "Baraja ka nan manang, mancontoh ka nan sudah". Dari dahulu jika orang tua suku Minang memberi nasehat pada anak mereka banyak berupa pepatah-petitih. Hal ini secara tidak langsung memberikan stimulasi pada otak kanan suku Minang.
Indak ado Rotan, aka pun Jadi. Indak kayu janjang dikapiang
Nasehat dari petatah ini juga merupakan salah satu kunci sukses orang Minang. Kalimat "Indak ado rotan aka pun jadi" ini secara tidak langsung mendidik orang Minang menjadi kreatif. Kalimat ini artinya jika tak ada rotan akar pun jadi. Orang Minang yang menerapkan nasehat tersirat dari kalimat ini dalam merintis karir ataupun bisnis tidak selalu memulai dengan modal besar. Hal ini juga sesuai dengan prinsip ekonomi" Dengan modal sekecil-kecilnya, meraih untung sebesar mungkin". Kalimat ini juga mengandung nasehat apa yang sudah ada pada diri kita dan lingkungan bisa menjadi modal untuk sukses.
Takuruang Nak Dilua, Tahimpik Nak Diateh
Kalimat ini mempunyai arti walaupun sedang menghadapi kesulitan atau kegagalan, harus kreatif mengubah kesulitan maupun kegagalan menjadi peluang. Makna dari kalimat ini membuat orang Minang yang pernah mengalami kegagalan bisa mendapatkan kesuksesan yang lebih besar dikemudian hari. Sebab orang Minang dilatih untuk tidak takut dengan kegagalan. Sejak kecil orang Minang sudah dilatih untuk mempelajari kegagalan dan mengubahnya jadi modal ataupun peluang.

Saya yakin anda tahu Bundaran HI. Saya juga tahu bahkan pernah lewat di Bundarang tersebut. Tapi hanya lewat saja tidak mampir. He he he. Berikut ini saya berikan artikel teman kita yang sangat bagus membahas secara mendetail tentang adanya keganjilan pada Bundaran Hotel Indonesia tersebut. Saya membaca artikelnya kok jadi bergidik ya. Seakan Indonesia ini telah dikuasai oleh suatu makhluk tersembunyi yang sangat menakutkan dan kita tidak pernah merasakan. Anda percaya atau tidak analisa ini silahkan berkomentar.
Sangat mengejutkan dan diluar dugaan. Bundaran Hotel Indonesia atau yang lebih populernya disebut dengan Bundaran HI, ternyata ditemukan sebuah keganjilan. Dan sudah sepantasnya hal ini menjadi sebuah tanda tanya besar.
Semua orang yang ada di Jakarta, sudah pasti tahu dengan monumen kolam air mancur ini. Presiden Soekarno dulunya di tahun 1960-an, memerintahkan untuk membangun beberapa proyek konstruksi demi mempercantik kota Jakarta dalam persiapan Asian Games IV.









Dada ini longar bila tanpa penyangga, dada ini akan terasa terhimpit bila tulang yang ada tak mampu mempu menopang desah nafas. Itulah tulang rusuk, tulang rusuk suami ada pada istri dan istri sebagai penopang kehidupan suami. Tak lantas beramarah bila rusuk itu kemudian susah untuk diluruskan, dan tak harus jenggah bila suami tak jua segera meluruskan. Yang dibutuhkan adalah pengertian, kesabaran dan saling memberi waktu untuk mengerti. Itulah hakikat cinta sejati pasangan suami-istri.
Karena Kamu Tulang Rusukku
Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih? Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian. ya, tentang cinta.
Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati.”
Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak,
“Kamu nggak cinta lagi sama aku!” Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak,
“Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!” Tiba-tiba Dara menjadi terdiam ,
Berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar. Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali. Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. “Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing.”
Lima tahun berlalu. Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya. Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara. Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.
Raka : Apa kabar?
Dara : Baik… ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah.
Dara tersenyum manis, lalu berlalu.
“Good bye….”
Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.
“Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal”
Soal rok mini ini memang menggelitik. Saya
sendiri di dalam dilema yang besar. Alasannya, pertama karena saya
laki-laki. Kedua, karena saya belum pernah memakai rok mini. Sebagai
orang berpendidikan, saya khawatir perspektif saya terhadap rok mini ini
menjadi sangat subyektif, dipenuh asumsi, dan ngawur.
Tapi sebenarnya saya selalu ingin mengajukan pertanyaan kepada setiap
pengguna rok mini atau celana super pendek di area publik demi mendapat
sudut pandang yang obyektif dari si pemakai agar saya tidak salah
sangka:
1. “Mbak-mbak, boleh tau apakah dengan rok mini yang mbak pakai itu, saya atau kami boleh menikmati paha mbak?”
2. “Kalau boleh, apakah mbak memang sengaja agar kami melihatnya? atau malah risih kalau kami melihatnya?”
3. “Atau tolong jelaskan kepada kami, bagaimana seharusnya kami boleh
menikmati paha mbaknya biar mbak merasa nyaman dan kita bisa sama-sama
menikmati, agar saya merasa aman dalam menikmati, dan mbaknya nikmat
juga dilihati?”
Pertanyaan ini sebenarnya penting untuk
ditanyakan sebagai dasar ilmiah untuk mengambil kesimpulan, tapi belum
kesampaian saya tanyakan sampai saat ini. Malu nanyanya. Dan saya
memilih untuk menikmati rok mini tersebut dengan diam-diam, dengan
“etika” yang saya karang sendiri agar tidak berdampak sosial yang buruk.
Ada yang bilang ini soal iman. Kalau iman kuat, rok mini lewat. Saya
kira setiap orang beriman yang jujur, kalau ditanya pasti menjawab akan
timbul pikiran bukan-bukan ketika menjumpai perempuan muda berpaha indah
memakai rok mini atau celana pendek sekali di tempat umum.
Tidak usah jauh-jauh, saya sendiri akan mengaku beriman, sholat tidak
pernah lewat, kadang-kadang juga ngaji, tapi rok mini is rok mini, daya
tariknya sungguh sering melewati daya tangkal iman. Kalau ada yang
bilang “Pikiran situ saja yang jorok“, duh, ingin sekali saya jawab
“Saya sudah susah payah membersihkan pikiran dari yang nggak-nggak, tapi
situ lewat sambil menjorok-jorokkan paha …. memaksa untuk dilihat“.
Soal hak, semua memang punya hak masing-masing. Selama masih berada di
tempatnya, hak menjadi sesuatu yang aman bagi dirinya maupun orang lain.
Contohnya merokok. Saya yakin itu adalah hak. Tidak seorangpun kecuali
keluarga dan orang-orang yang bergantung hidupnya pada perokok boleh
melarang orang untuk merokok. Tetapi ketika merokok di tempat umum, hak
itu jadi tidak aman untuk orang lain. “Tolong ya mas, merokoknya di
ruang merokok, atau menggunakan helm full face saja biar asapnya tidak
terhirup oleh saya“. Gimana kalau perokok menjawab, “Ya situ saja jangan
hirup asap saya kalau memang tidak suka bau asap“. Kira-kira Anda mau
langsung mengajak adu hantam tidak?
Mamainkan musik adalah hak.
Tetapi ketika bertetangga, genjrang-genjreng di jam dua pagi di depan
rumah orang, kira-kira akan membuat tidur orang terganggu tidak? Gimana
kalau ketika ditegur si penggitar menjawab “Tolong ya Bu, kalau memang
tidak suka dengan suara gitar saya, ibu jangan dengerin suaranya,
gitar-gitar saya kok ibu yang repot“. Kira-kira si ibu akan melempar
sandal atau tidak? Kalau bermainnya di dalam kamarnya sendiri, di studio
musik kedap suara, saya kira volume sebesar apapun tidak akan jadi
masalah. Minimal tidak jadi masalah untuk orang lain.
Sama
jadinya dengan rok mini dan hot pant. Di rumah, rok mini akan menjadi
sangat asik. Aman, dan nyaman buat semuanya. Apalagi di kamar, tidak
pakai rok pun akan semakin menambah suasana jadi lebih sesuatu banget
Dan, semua orang akan merasa happy dan dijamin aman.
Tapi di
boncengan sepeda motor, di busway, di jalanan … duuuh biyung, please
mbak, bu, kalau sekadar saya yang lihat dijamin akan aman. Karena nafsu
dan pikiran saya akan saya manage sedemikian rupa sehingga akan hanya
meledak tanpa melukai Anda. Tapi kalau yang nafsunya meledak itu lelaki
yang sedang sakit parah jiwanya dan tak tau tempat?
Pemerkosa
adalah orang yang sedang sakit jiwanya. Dan kata orang tua, mencegah
lebih mudah dan murah dari pada mengobati. Mengobati mereka tetap harus
dilakukan karena bisa membahayakan orang lain, berapapun biaya material
dan sosial yang dibutuhkan, termasuk kita memberi makan mereka di
penjara seumur hidup.
Tapi sambil mengobati, akan lebih cerdas,
mudah, dan murah kalau kita semua juga ikut mencegah, salah satunya
dengan tidak mengguanakn rok mini di tempat umum. Masih banyak pilihan
busana yang lain, yang tetap menarik (tanpa menggoda) dan pantas.
Cara ini pasti lebih murah sebelum ada yang menjadi korban lelaki sakit
jiwa. Kecuali, kalau memang rok mini telah menjadi sumber penghasilan
pengenanya.
Mbak-mbak, ibu-ibu. Sebagai lelaki, saya selalu
mengagumi perempuan. Dalam teori saya, perempuan itu setiap inchi
kulitnya adalah fashion. Karena itu, benang dililit-lilit pun ke
beberapa bagian tubuh, sudah seperti keindahan yang menyeluruh.
Perempuan juga sangat ekspresif. Mereka suka bicara, suka berdandan,
suka “menunjukkan” keindahan dirinya. Itu memang kodratnya.
Dan
sedikit ini komentar lelaki. Kami-kami ini juga sangat ekspresif. Tapi
berbeda caranya dengan perempuan. Kami tidak terlalu suka bicara, suka
berdandan, menunjukkan keindahan diri sendiri. Tapi langsung bertindak.
Sebagian yang lain, ekspresinya malah tidak terlihat sama sekali. Tetapi sesuatu di balik celananyalah yang langsung bereaksi.
Maka, seperti Bang Napi bilang, kejahatan terjadi bisa bukan karena niat pelakunya, tetapi ketika ada kesempatan.