wibiya widget

One Klik for Jutaan Rupiah

Garuda

Radio Urang Awak

Translate Article

English French German Spain

Italian Dutch Russian Brazil

Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

SMS Gratis


Make Widget

punkmuslim.co.cc




Merantau merupakan tradisinya orang Minangkabau. Dari zaman nenek moyangnya orang Minangkabau sampai saat sekarang ini tradisi tersebut masih dijalankan. Pada zaman nenek moyangnya orang Minangkabau, merantau mungkin hanya disekitar Semenanjung Malaka dan daerah-daerah di pulau sumatra lainnya. Sedangkan kalau zaman sekarang ini tidak hanya di pulau sumatra saja melainkan telah tersebar keseluruh pelosok dunia. Mengapa orang minangkabau suka merantau? Dibawah ini ada beberapa alasannya menurut analisa penulis:

1. Faktor adat, tradisi dan kebiasaan yang sudah diajarkan oleh nenek moyang orang minangkabau sejak zaman dahulu kala.

2. Faktor ekonomi. Banyak ditemui para perantau didaerah tempatnya merantau tersebut perantau melakukan kegiatan berdagang. Coba saja liat di Jakarta, banyak sekali pedagang Minang yang berjualan di Pusat Grosir Tanah Abang. Tujuan mereka berdagang tersebut adalah untuk memperbaiki perekonomian keluarga. Selain itu kalau anda melakukan perjalanan keseluruh Nusatara pasti anda akan menemukan RM Padang yang menyediakan masakan khas Minang. Kalau perantau kurang berbakat dalam berdagang mereka bisa membuka usaha rumah makan. Kalau perantau pintar meracik masakan Minang dijamin masakannya akan laris. Karena semua orang di Indonesia suka dengan masakan Minang yang bumbunya khas tersebut. Dari keuntungan yang mereka dapatkan itu, mereka bisa mengirimkan uang kepada keluarga mereka dikampung. Dan dikampung uang tersebut bisa digunakan unuk membangun atau memperbaiki rumah, membeli ternak, ataupun membeli tanah. Apabila mereka pulang kekampung suatu saat nanti mereka bisa menikmati hasil jerih payah mereka selama merantau.
3. Faktor sosial. Jika salah seorang anggota masyarakat meraih kesuksesan ketika merantau, dan mereka membawa keberhasilan mereka tersebut ke kampung maka anggota masyarakat yang lain pasti akan merasa termotivasi untuk merantau juga. Perantau yang meraih kesuksesan tersebut akan lebih dihormati dan dihargai dikampung mereka dikarenakan keberhasilan mereka tersebut.
4. Faktor pendidikan. Para perantau minang tidak hanya berminat untuk berdagang melainkan juga berminat untuk menuntut ilmu. Apalagi yang kita tahu, kwalitas pendidikan khususnya di pulau Jawa lebih baik dari pendidikan diluar Jawa. Walaupun kwalitas pendidikan di Sumatra Barat tidaklah kalah dari daerah-daerah lainnya di pulau sumatra. Karena banyak ditemukan pelajar dari daerah lain di sumatra yang datang ke Sumatra Barat untuk menuntut ilmu. Seperti dari provinsi Riau, Kerinci-Jambi, Sumatra Utara bagian selatan dan Bengkulu.
Perantau menuntut ilmu di luar Sumatra Barat dengan tujuan mendapatkan sesuatu yang baru. Jika perantau berhasil dalam menuntut ilmu lalu pulang ke kampung halaman, keluarga mereka akan bangga. Jika perantau melamar pekerjaan kemungkinan mereka akan lebih mudah diterima dari pada pelamar lain dikarenakan mereka menuntut ilmu di luar daerah. Juga keberhasilan mereka menuntut ilmu menjadikan mereka panutan bagi masyarakat. Mereka akan menjadi contoh dan tempat bertanya.

5. Faktor pepatah adat. Banyak pepatah adat minang yang berisikan motivasi dan lecutan bagi para calon perantau. Jangan hanya bangga diri berada dikampung. Jangan mau disebut katak dalam tempurung. Jangan seperti anjing dihalaman rumah. Semuanya itu dapat membuat mereka terpacu dan berfikir akan makna dibalik itu semua dan akhirnya memutuskan untuk merantau.

6. Faktor kemandirian. Kemandirian disini dapat diartikan dalam banyak hal. Tidak hanya mandiri dari segi ekonomi. Tapi juga mandiri dari segi kepribadian. Orangtua yang menyuruh anaknya merantau pasti menginginkan agar anaknya meraih kesuksesan. Tidak menggantungkan hidup dengan kedua orangtua. Syukur-syukur kalau anaknya meraih keberhasilan dan mempersembahkan yang terbaik untuknya. Mapan dari cara berfikir dan bertindak. Tidak lekas menyerah begitu saja. Dan menjadi kebanggaan bagi orangtua jika anaknya tidak hanya mandiri di dunia tapi juga mandiri dalam urusan akhirat.

MENDAPATKAN HAL DAN PENGALAMAN BARU.
Banyak hal yang akan didapatkan setelah merantau. Perantau akan menemukan hal-hal baru yang mungkin tidak ditemukan di daerah asal. Baik itu segi ekonomi, sosial-budaya, pendidikan maupun watak orang-orang dari daerah tempat merantau. Perantau akan belajar mengerti mereka seperti apa. Bagaimana cara berbicara dan bergaul dengan mereka agar mereka tidak tersinggung dan banyak hal menarik lainnya.
Disamping itu merantau akan menumbuhkan kecintaan pada kampung halaman. Semua hal yang berhubungan dengan kampung halaman. Akan tumbuh semangat untuk menghargai, menjaga dan melestarikan budaya dan adat di kampung halaman. Pengalaman pribadi penulis dalam hal ini adalah penulis menjadi lebih menyukai lagu-lagu daerah daripada ketika sebelum jauh dari kampung halaman. Buktinya penulis sering mencari informasi tentang budaya Minangkabau di internet. Baik itu mengunduh lagu-lagu, tarian, atraksi budaya maupun foto-foto yang menggambarkan keelokan dan keeksotikan alam Minangkabau dan Sumatra Barat pada umumnya lalu menyimpannya untuk dijadikan dokumen pribadi. Para perantau pasti akan sadar kalau budaya Minangkabau itu luar biasa dan akan lebih mencintainya daripada sebelum-sebelumnya.

JANGAN TERLENA.
Jika telah mendapatkan kesuksesan di rantau orang maka segeralah untuk pulang ke kampung halaman. Jangan terlena akan kesuksesan yang telah diraih. Bangun dan majukanlah kampung halaman. Jangan hanya memberikan kemajuan ditempat kita merantau. Jika seorang perantau menjadi pengusaha dan usahanya maju, maka yang akan dikenal oleh orang pasti daerah dimana ia berada tersebut dan secara otomatis itu akan menjadi keunggulan tersendiri bagi daerah itu. Sedangkan daerah asal peratau, orang tidak terlalu mengetahuinya.
Jika telah memiliki modal yang cukup kembalilah ke kampung dan dirikanlah usaha yang dapat mensejahterakan masyarakat para perantau sendiri. Perantau bisa memindahkan usaha yang ia tekuni selama di rantau. Orang-orang dari daerah lain telah mengenal Ranah Minang dengan alamnya yang indah dan budayanya yang unik. Para perantau bisa mempromosikan daerahnya. Bisa dengan menyediakan akomodasi yang baik bagi orang yang akan mengunjungi Sumatra Barat. Keindahan Sumatra Barat akan semakin terkenal jika didukung oleh layanan yang memuaskan bagi para turis tersebut.

MARI MEMBANGUN KAMPUNG.
Banyak hal yang dapat perantau lakukan di kampung sendiri. Ilmu dan pengetahuan perantau selama dirantau bisa diterapkan di daerah sendiri. Saat ini banyak masyarakat dari daerah lain yang datang dan tinggal di daerah di Sumatra Barat. Lihat saja Dhamasraya dan daerah-daerah di Pasaman. Banyak yang membuka lahan. Mereka membeli lahan dan menanaminya dengan tanaman yang lebih menjanjikan seperti karet dan kelapa sawit. Dan tidak sedikit dari mereka yang sukses.
Masyarakat di Sumatra Barat harusnya termotivasi. Memang kebanyakan kendalanya adalah banyak lahan-lahan di Sumatra Barat yang hanya di tanami masyarakat dengan pohon-pohon besar seperti pohon kelapa, durian, rambutan, dan lain sebagainya. Banyak lahan tersebut yang kosong dan hanya ditumbuhi oleh semak sehingga lahan menjadi tidak produktif. Disamping itu memang nenek moyang orang Minang mengajarkan untuk lebih mengutamakan untuk menanam pohon-pohon seperti itu. Masyarakat minang lebih tertarik untuk bercocok tanam. Juga kendalanya dikarenakan lahan tersebut adalah punya suku. Tidak bisa sembarang masyarakat menggunakan lahan tersebut. Alangkah baiknya kalau Datuak yang ditunjuk untuk menjaga lahan tersebut bermusyawarah dengan anggota suku lainnya untuk membuka lahan yang produktif itu. Lalu bisa ditanami dengan karet, kelapa sawit dan jenis tanaman perkebunan lainnya yang lebih menjanjikan. Anggota suku bisa saling bekerja sama sehingga silaturahim antar anggota suku bisa lebih terjalin dan tidak terjadi “miss comunication”. Jangan sampai terjadi sikap “cadiak buruak”. Jika lahan produktif tadi telah digarap dan menghasilkan maka yang akan diuntungkan adalah anggota suku itu juga. Jangan sampai Datuak yang ditugaskan untuk menjaga tanah ulayat malah menjualnya dan memperkaya diri pribadi. Sehingga akan menjadi konflik ditengah masyarakat.

TETAP MENJAGA ALAM MINANGKABAU NAN ASRI.
Masyarakat juga harus menyadari kalau geografi dari wilayah Sumatra Barat adalah gunung dan perbukitan. Maka masyarakat harus menjaganya juga. Masyarakat Minang dapat membuka lahan yang tidak akan merusak hutan juga tidak mengganggu permukiman penduduk. Ambil pelajaran dari masalah daerah lain yang hutannya habis ditebang lalu ditanami karet atau kelapa sawit begitu saja. Hutan tetap hutan, yang boleh digarap hanyalah lahan suku yang jauh dari hutan. Karena hutan fungsinya sangat vital. Selainnya sebagai suplay udara bersih, meyerap air agar tidak terjadi longsor juga menjadi daya tarik yang harus dipertahankan karena banyak objek pariwisata di Sumatra Barat yang menampilkan keelokan alam.

Category : edit post

0 Response to "Filosofi Merantau (Kontribusi Perantau untuk Memajukan Kampung Halaman)"

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Ingat Waktu (WI)

Mutiara

If you want something you’ve never had, you must be willing to do something you’ve never done.

Jualan Jersey Bola Online

Saatnya Sholat

Followers

free counters