![]() |
| Add caption |
Darah Indonesia masuk Werder Bremen ini tertulis sehubungan saya
teringat laga Grand final Liga Champion yang mempertemukan FC Bayern
Munich dan FC Chelsea yang sudah di gelar beberapa hari lalu, tepatnya
Minggu pagi (dini hari) 20 May 2012.
Sebastian Czimmeck is taken by Mbak Yeni
Melihat pertandingan final Liga
Champion, ada bahagia bagi pendukung pun mereka yang menjadi pemenang,
ada pula kemurungan bagi pihak yang kalah. Menang dan kalah, itulah dua
sisi permainan yang kenyataannya juga teraplikasikan pada sisi-sisi
hidup kita. Oleh karenanya ada sebagian teman yang bilang bahwa hidup
adalah permainan.
Sejatinya saya sendiri berada pada pihak
kalah, lantaran saya mendukung FC Bayern Munich yang gagal menjadi
nomor wahid setelah drama adu pinalti pasca perpanjangan waktu. Saya tak
mau munafik, saya tetap mau mengakui kemenangan Di Matteo dan pasukan
Chelsea-nya. Hanya saja kembali lagi saya harus menghibur diri pada satu
pernyataan, bahwa ini hanyalah permainan, it’s a game yang harus ada kalah dan menang.
Lalu kenapa dalam menanggapi liga final Champion 2012 itu saya malah menulis tentang “Darah Indonesia masuk Werder Bremen..?’
Hal itu tak lain dan tak bukan lantaran
saya teringat dengan pernyataan dari seorang sahabat lama yang tinggal
di Jerman melalui akun twitter, sobat lama yang sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri. Beliau adalah mBak Yeni Kirimang.
.

Tuits mBak Yeni K.
‘
Ketika menyimak sepakbola, apalagi yang
berhubungan dengan Jerman, seringkali saya ber-kontak-an dengan Mbak
Yeni, pasalnya selain beliau ini tinggal di Jerman, dua jagoannya -Basti
dan Matze- juga aktif bermain sepak bola di Sekolah Sepakbola negeri
panser tersebut.
Basti adalah putra kedua mBak Yeni, sementara Matze adalah kakak Basti.

Basti taken by MBak Yeni Kirimang
Pada kesempatan ini Basti adalah sosok
yang ingin saya jadikan obyek tulisan, sementara untuk Matze, pada
saatnya nanti saya juga akan tetap menuliskannya.
Basti atau Sebastian Czimmeck
adalah putera kedua dari Mbak Yeni Kirimang yang terlahir pada tanggal
25 Agustus 1999. Sementara saya baru mulai mengenalnya medio 2007 lalu
melalui dunia maya lantaran saya mengenal maminya juga dari sana.
Sedari kecil Basti memang sudah memiliki hobby bermain sepakbola, maka dari itu oleh orang tuanya hobby Basti tersebut disalurkan pada sekolah sepak bola. FC St. Pauli, Hamburg adalah salah satu pilihannya.
Jadwal padat antara sekolah formal pun
sekolah sepakbola tak dijadikan kendala. Semua dijalani Basti dengan
riang. Begitu pula oleh Mbak Yeni -ibunya- selain ada kegiatan bekerja,
waktunyapun tak luput digunakan untuk mengantar anak-anak demi mendukung
hobby tersebut. Ya Mbak Yenni selain sebagai Ibunya anak-anak, dia
berperan sebagai sopirnya juga.
Ada kalanya antara Basti dan Matze -yang
juga masuk sekolah sepakbola- memiliki jadwal pertandingan berbarengan,
dimana tempatnyapun saling berjauhan. Oleh karenanya Mbak Yeni sebagai
sopir harus menyiasati keadaan agar keduanya bisa diantar dan salah
satunya bisa didampingi.
.

Basti dan Matse taken by MBak Yeni Kirimang
‘
Beberapa waktu lalu Mbak Yeni mention saya di twitter, bahwa beliau baru saja pulang kerja agak malam dan sedang bersiap tidur. Sambil haha-hihi ketawa-ketiwi,
Mbak Yeni menyebutkan bahwa dia sedang tak sabar menunggu kenikmatan
datang saat bangun tidur pagi nanti, yaitu menikmati sarapan yang
disajikan oleh kedua putranya, Basti dan Matze.
Wowww, saya haru, senang, pun gembira.
Namun setelah itu saya mulai berpikir yang selanjutnya mengulas kembali,
hingga keluar satu pernyataan dari saya. Bahwa ini adalah “didikan”
bagus dari seorang Ibu kepada anak dimana masih teramat jarang pola ini
diterapkan oleh orang tua kepada anak-anaknya.

With Basti, Matze, n Mbak Yeni taken by mBak WayanLessy
Saya sama sekali tak akan memandang perlakuan Mbak Yeni tersebut sebagai perlakuan “mempekerjakan” anak. Lain dari itu saya bisa merasakan ‘budaya‘ pendidikan serupa lantaran dulu sedari kecil juga mengalami didikan yang tak jauh berbeda dari simbok.
Saya harus belajar mengerjakan segala sesuatunya sedari kecil, beberes
baju, memasak di dapur, dan hal-hal domestik lainnya. Manfaat itu bisa
saya rasakan ketika orang tua sedang tak ada pun sedang berkendala
mengerjakannya. Dan lebih dari itu, manfaat kemandirian itu bisa saya
rasakan setelah jauh dari orang tua, saya tak kaget lantaran sudah
terbiasa tak bergantung pada keberadaan orang tua.
Keharuan lain saya rasakan akibat
teringat kurang lebih setahun lalu, yaitu tatkala Mbak Yeni sedang sakit
dan harus dirawat. Ternyata Basti dan Matze mampu mengatasi keadaan.
Bahkan meskipun menggunakan bahasa Jerman, mereka berdua sempat
mengabarkan melalui akun FaceBook bahwa Ibunya masih “nursed” so belum bisa OnLine di dunia maya.
Ikhwal penggunaan Bahasa Jerman tersebut, bukan berarti Basti dan Matze tak bisa diajak berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Kenyataannya mereka berdua sedikit-sedikit mampu menerima omongan saya ketika harus mengajaknya berbicara dengan bahasa Indonesia,
bahkan adakalanya ada yang membuat saya tertawa, lantaran saat beberapa
bulan lalu ketemu dan lalu bercanda justru argumen yang keluar dari
mulut mereka adalah bahasa Jawa, sik sik sik….
ternyata seperti profi ya… teken kontrak nya…maturnuwun gusti atas berkah ini… http://mltp.ly/2Nk6aqw
.
Sebastian Czimmeck taken by MBak Yeni Kirimang
‘
Akhirnya, sampai dengan saat ini usaha
Basti, Matze, dan Mbak Yenni tak sia-sia. Kesempatan awal telah mulai
dipetik oleh Basti, dimana Basti telah dilirik team besar Jerman yaitu Werder Bremen,
dan beberapa waktu lalu -tepatnya tanggal 20 April Waktu Indonesia-
telah ada tandatangan kontrak untuk masuk dalam jajaran team juniornya
Werder Bremen. Ya, akhirnya satu lagi ada ‘Darah Indonesia masuk Werder Bremen, yaitu darahnya Mbak Yeni Kirimang. Bravo Basti Sebastian Czimmeck.
Sumber Berita


0 Response to "Darah Indonesia masuk Werder Bremen"
Post a Comment