wibiya widget

One Klik for Jutaan Rupiah

Garuda

Radio Urang Awak

Translate Article

English French German Spain

Italian Dutch Russian Brazil

Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

SMS Gratis


Make Widget

punkmuslim.co.cc

Darah Indonesia masuk Werder Bremen

Posted by permana anak lugom On 11:04 AM

Sebastian Czimmeck
Add caption
Darah Indonesia masuk Werder Bremen ini tertulis sehubungan saya teringat laga Grand final Liga Champion yang mempertemukan FC Bayern Munich dan FC Chelsea yang sudah di gelar beberapa hari lalu, tepatnya Minggu pagi (dini hari) 20 May 2012.
Sebastian Czimmeck is taken by Mbak Yeni
Melihat pertandingan final Liga Champion, ada bahagia bagi pendukung pun mereka yang menjadi pemenang, ada pula kemurungan bagi pihak yang kalah. Menang dan kalah, itulah dua sisi permainan yang kenyataannya juga teraplikasikan pada sisi-sisi hidup kita. Oleh karenanya ada sebagian teman yang bilang bahwa hidup adalah permainan.
Sejatinya saya sendiri berada pada pihak kalah, lantaran saya mendukung FC Bayern Munich yang gagal menjadi nomor wahid setelah drama adu pinalti pasca perpanjangan waktu. Saya tak mau munafik, saya tetap mau mengakui kemenangan Di Matteo dan pasukan Chelsea-nya. Hanya saja kembali lagi saya harus menghibur diri pada satu pernyataan, bahwa ini hanyalah permainan, it’s a game yang harus ada kalah dan menang.
Lalu kenapa dalam menanggapi liga final Champion 2012 itu saya malah menulis tentang Darah Indonesia masuk Werder Bremen..?’
Hal itu tak lain dan tak bukan lantaran saya teringat dengan pernyataan dari seorang sahabat lama yang tinggal di Jerman melalui akun twitter, sobat lama yang sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri. Beliau adalah  mBak Yeni Kirimang.
.
Darah Indonesia masuk Werder Bremen
Tuits mBak Yeni K.
Ketika menyimak sepakbola, apalagi yang berhubungan dengan Jerman, seringkali saya ber-kontak-an dengan Mbak Yeni, pasalnya selain beliau ini tinggal di Jerman, dua jagoannya -Basti dan Matze- juga aktif bermain sepak bola di Sekolah Sepakbola negeri panser tersebut.
Basti adalah putra kedua mBak Yeni, sementara Matze adalah kakak Basti.
Sebastian Czimmeck
Basti taken by MBak Yeni Kirimang
Pada kesempatan ini Basti adalah sosok yang ingin saya jadikan obyek tulisan, sementara untuk Matze, pada saatnya nanti saya juga akan tetap menuliskannya.
Basti atau Sebastian Czimmeck adalah putera kedua dari Mbak Yeni Kirimang yang terlahir pada tanggal 25 Agustus 1999. Sementara saya baru mulai mengenalnya medio 2007 lalu melalui dunia maya lantaran saya mengenal maminya juga dari sana.
Sedari kecil Basti memang sudah memiliki hobby bermain sepakbola, maka dari itu oleh orang tuanya hobby Basti tersebut disalurkan pada sekolah sepak bola. FC St. Pauli, Hamburg adalah salah satu pilihannya.
Jadwal padat antara sekolah formal pun sekolah sepakbola tak dijadikan kendala. Semua dijalani Basti dengan riang. Begitu pula oleh Mbak Yeni -ibunya- selain ada kegiatan bekerja, waktunyapun tak luput digunakan untuk mengantar anak-anak demi mendukung hobby tersebut. Ya Mbak Yenni selain sebagai Ibunya anak-anak, dia berperan sebagai sopirnya juga.
Ada kalanya antara Basti dan Matze -yang juga masuk sekolah sepakbola- memiliki jadwal pertandingan berbarengan, dimana tempatnyapun saling berjauhan. Oleh karenanya Mbak Yeni sebagai sopir harus menyiasati keadaan agar keduanya bisa diantar dan salah satunya bisa didampingi.
.
Basti dan Matze
Basti dan Matse taken by MBak Yeni Kirimang
Beberapa waktu lalu Mbak Yeni mention saya di twitter, bahwa beliau baru saja pulang kerja agak malam dan sedang bersiap tidur. Sambil haha-hihi ketawa-ketiwi, Mbak Yeni  menyebutkan bahwa dia sedang tak sabar menunggu kenikmatan datang saat bangun tidur pagi nanti, yaitu menikmati sarapan yang disajikan oleh kedua putranya, Basti dan Matze.
Wowww, saya haru, senang, pun gembira. Namun setelah itu saya mulai berpikir yang selanjutnya mengulas kembali, hingga keluar satu pernyataan dari saya. Bahwa ini adalah “didikan” bagus dari seorang Ibu kepada anak dimana masih teramat jarang pola ini diterapkan oleh orang tua kepada anak-anaknya.
Darah Indonesia masuk Werder Bremen
With Basti, Matze, n Mbak Yeni taken by mBak WayanLessy
Saya sama sekali tak akan memandang perlakuan Mbak Yeni tersebut sebagai perlakuan “mempekerjakan” anak. Lain dari itu saya bisa merasakan ‘budaya‘ pendidikan serupa lantaran dulu sedari kecil juga mengalami didikan yang tak jauh berbeda dari simbok. Saya harus belajar mengerjakan segala sesuatunya sedari kecil, beberes baju, memasak di dapur, dan hal-hal domestik lainnya. Manfaat itu bisa saya rasakan ketika orang tua sedang tak ada pun sedang berkendala mengerjakannya. Dan lebih dari itu, manfaat kemandirian itu bisa saya rasakan setelah jauh dari orang tua, saya tak kaget lantaran sudah terbiasa tak bergantung pada keberadaan orang tua.
Keharuan lain saya rasakan akibat teringat kurang lebih setahun lalu, yaitu tatkala Mbak Yeni sedang sakit dan harus dirawat. Ternyata Basti dan Matze mampu mengatasi keadaan. Bahkan meskipun menggunakan bahasa Jerman, mereka berdua sempat mengabarkan melalui akun FaceBook bahwa Ibunya masih “nursed” so belum bisa OnLine di dunia maya.
Ikhwal penggunaan Bahasa Jerman tersebut, bukan berarti Basti dan Matze tak bisa diajak berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Kenyataannya mereka berdua sedikit-sedikit mampu menerima omongan saya ketika harus mengajaknya berbicara dengan bahasa Indonesia, bahkan adakalanya ada yang membuat saya tertawa, lantaran saat beberapa bulan lalu ketemu dan lalu bercanda justru argumen yang keluar dari mulut mereka adalah bahasa Jawa, sik sik sik…. :)

ternyata seperti profi ya… teken kontrak nya…maturnuwun gusti atas berkah ini…
.
Basti
Sebastian Czimmeck taken by MBak Yeni Kirimang
Akhirnya, sampai dengan saat ini usaha Basti, Matze, dan Mbak Yenni tak sia-sia. Kesempatan awal telah mulai dipetik oleh Basti, dimana Basti telah dilirik team besar Jerman yaitu Werder Bremen, dan beberapa waktu lalu -tepatnya tanggal 20 April Waktu Indonesia- telah ada tandatangan kontrak untuk masuk dalam jajaran team juniornya Werder Bremen. Ya, akhirnya satu lagi ada ‘Darah Indonesia masuk Werder Bremen, yaitu darahnya Mbak Yeni Kirimang. Bravo Basti Sebastian Czimmeck.

Sumber Berita

Category : edit post

0 Response to "Darah Indonesia masuk Werder Bremen"

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Ingat Waktu (WI)

Mutiara

If you want something you’ve never had, you must be willing to do something you’ve never done.

Jualan Jersey Bola Online

Saatnya Sholat

Followers

free counters